BRAVO13.ID, Tenggarong - Gedung Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena sejumlah kebutuhan fasilitas masih harus dipenuhi. Di tengah keterbatasan anggaran daerah, Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar mulai menjajaki bantuan pemerintah pusat untuk melengkapi sarana pendukung aktivitas komunitas.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan daftar peralatan yang dibutuhkan sebenarnya telah disiapkan. Namun, pengadaannya harus menyesuaikan kemampuan keuangan daerah yang terdampak kebijakan efisiensi.
“Karena efisiensi, jadi kita berjalan pelan-pelan. Namun, tadi kita sudah berbicara dengan Plt. Kadispar. Dalam rapat juga dibahas bahwa kita ingin meminta skema lain,” kata Zikri saat diwawancarai di Tenggarong, Senin (2/11/2026).
Salah satu alternatif yang dibahas adalah pengajuan bantuan kepada kementerian terkait melalui Bupati Kukar. Dispar bersama perangkat daerah lainnya tengah mempertimbangkan kebutuhan fasilitas yang memungkinkan memperoleh dukungan pendanaan dari pemerintah pusat.
Zikri menjelaskan, kelengkapan peralatan diperlukan untuk mendukung aktivitas komunitas sekaligus memperkenalkan produk ekonomi kreatif kepada masyarakat. Ia mencontohkan penggunaan videotron sebagai sarana penayangan visual berbagai produk dan karya kreatif.
Sembari mengupayakan pemenuhan fasilitas, Dispar Kukar juga menyiapkan konsep pemanfaatan gedung. Bangunan tersebut direncanakan menjadi ruang bersama yang dapat digunakan komunitas untuk berkegiatan tanpa dikenai biaya penggunaan tempat.
Namun, konsep pengelolaannya tidak membatasi aktivitas hanya pada kegiatan nonkomersial. Komunitas juga diperbolehkan mengembangkan kegiatan bisnis maupun kerja sama antarpelaku usaha yang menghasilkan keuntungan.
“Gedungnya difasilitasi secara gratis untuk komunitas. Tetapi, pada saat komunitas itu ingin melakukan kegiatan yang memiliki unsur ekonomi, silakan. Kalau semuanya gratis, ekosistemnya tidak akan terbangun,” ujarnya.
Menurut Zikri, pola tersebut disiapkan agar Gedung Ekraf tidak hanya digunakan sebagai tempat berkumpul, tetapi juga dapat menunjang kegiatan usaha dan pengembangan produk komunitas.
Di luar kebutuhan peralatan, masih terdapat persoalan kelengkapan bangunan yang perlu ditangani. Zikri mengungkapkan sejumlah kabel di gedung tersebut hilang sebelum proses serah terima pengelolaan kepada Dispar Kukar selesai.
“Kabelnya saja sudah hilang. Sebetulnya saya sekalian ingin menyampaikan bahwa kehilangan itu terjadi sebelum diterima oleh Dinas Pariwisata. Sebelum diterima oleh Dinas Pariwisata, masih dalam masa penyerahan atau transisi,” ungkapnya.
Zikri menyebut persoalan tersebut terjadi ketika gedung belum berada dalam pengelolaan Dispar Kukar. Penyelesaian kebutuhan fasilitas dan kelengkapan bangunan masih menjadi bagian dari persiapan sebelum Gedung Ekraf dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh komunitas. (adv)

-webp.webp)