Bravo 13
Target Beroperasi Lebaran 2027, Kontrak Proyek Waterboom Pulau Kumala Rp2,5 Miliar Belum TerbitWaterboom Pulau Kumala ditargetkan beroperasi saat Lebaran 2027. Anggaran Rp2,5 miliar telah disiapkan, tetapi kontrak pekerjaan belum dibuat.
Oleh Bobby Lolowang2026-11-03 01:44:00
Target Beroperasi Lebaran 2027, Kontrak Proyek Waterboom Pulau Kumala Rp2,5 Miliar Belum Terbit
Kondisi fasilitas Waterboom Pulau Kumala di Tenggarong yang ditargetkan dapat beroperasi saat libur Lebaran 2027 setelah pekerjaan lanjutan diselesaikan. (Bobby/Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Tenggarong - Target pengoperasian Waterboom Pulau Kumala saat libur Lebaran 2027 masih bergantung pada penyelesaian pekerjaan fisik yang belum memasuki tahap kontrak. Anggaran sekitar Rp2,5 miliar telah disiapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan proses lelang disebut selesai, tetapi kontrak dengan pelaksana pekerjaan belum dibuat.

Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, mengatakan pemenang lelang telah ditetapkan. Ia berencana menindaklanjuti proses administrasi yang belum selesai kepada perangkat daerah terkait agar pekerjaan dapat segera dilaksanakan.

“Saya mendapat informasi bahwa proses lelang sudah selesai dan sudah ada pemenangnya, tetapi kontraknya belum dibuat. Saya akan menindaklanjuti lagi kepada teman-teman di dinas terkait,” kata Rendi saat diwawancarai di Tenggarong, Jumat (30/10/2026).

Menurut Rendi, pemerintah daerah menargetkan fasilitas wisata air tersebut sudah dapat dinikmati masyarakat pada masa libur Lebaran 2027. Target itu menjadi perhatian karena masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum Waterboom dapat dioperasikan.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah kebocoran pada sejumlah bagian fasilitas. Berdasarkan pengecekan yang dilakukan sebelumnya, kebocoran tersebut relatif kecil, tetapi tersebar di banyak titik sehingga dinilai berdampak cukup besar terhadap kondisi Waterboom.

Penanganan kerusakan itu menjadi bagian dari kebutuhan pekerjaan lanjutan. Rendi juga menyinggung rencana penambahan anggaran pada tahun berikutnya, meskipun alokasi yang telah tersedia saat ini belum digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan.

“Seharusnya tahun depan ada tambahan anggaran. Namun, bagaimana kita mau menambah anggaran untuk pekerjaan berikutnya kalau anggaran yang sudah ada ini saja belum digunakan?” ujarnya.

Selain penyelesaian fisik, pemerintah daerah masih perlu menentukan pola pengelolaan Waterboom setelah fasilitas tersebut dapat difungsikan.

Rendi menginginkan pengelolaan dilakukan secara terpusat oleh satu pihak. Beberapa pilihan yang dipertimbangkan meliputi pengelolaan oleh perusahaan, pihak pengelola Pulau Kumala, maupun melalui skema penyewaan.

Pilihan tersebut belum ditetapkan sebagai keputusan akhir. Penentuan pengelola menjadi salah satu tahapan yang perlu diselesaikan bersamaan dengan pekerjaan fisik sebelum Waterboom Pulau Kumala dapat dibuka untuk masyarakat. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait