Bravo 13
Akses Gang Sempit Hambat Pemadaman Loa Ipuh, Damkarmatan Evaluasi Penanganan Permukiman PadatAkses gang sempit dan keterbatasan suplai air menjadi kendala Damkarmatan Kukar saat menangani kebakaran Loa Ipuh. Tujuh unit dikerahkan ke lokasi.
Oleh Bobby Lolowang2026-10-14 17:50:00
Akses Gang Sempit Hambat Pemadaman Loa Ipuh, Damkarmatan Evaluasi Penanganan Permukiman Padat
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutai Kartanegara Fida Hurasani menjelaskan proses penanganan kebakaran di Jalan Kartini Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Rabu (14/10/2026). (Bobby/Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Tenggarong - Akses gang yang sempit menjadi salah satu kendala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutai Kartanegara saat menangani kebakaran di Jalan Kartini Gang Karya, RT 61 dan RT 26, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Selasa (13/10/2026) malam.

Kepala Damkarmatan Kukar Fida Hurasani mengatakan karakter kawasan permukiman yang padat membuat pergerakan armada dan distribusi air tidak semudah di kawasan dengan akses jalan lebih terbuka.

“Untuk kejadian ini, tujuh unit yang berada di Tenggarong dikerahkan ke lokasi. Sebelumnya, saat terjadi kebakaran, saya juga pernah meminta bantuan dari Loa Tebu dan Loa Kulu untuk merapat sebagai unit pendukung,” kata Fida, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, seluruh unit yang tersedia di Tenggarong dikerahkan dalam penanganan kebakaran tersebut.

Gang Sempit Batasi Pergerakan

Fida mengatakan salah satu tantangan utama berada pada akses menuju lokasi kebakaran.

Kondisi permukiman yang padat dan gang yang sempit membuat armada tidak dapat bergerak secara leluasa hingga mendekati seluruh titik api.

Situasi tersebut membuat suplai air menjadi semakin penting karena proses pemadaman harus terus berlangsung meski kendaraan memiliki keterbatasan akses.

“Kalau ketersediaan air banyak, kami bisa melakukan pemadaman tanpa henti. Namun ketika air terbatas, upaya pemadaman menjadi sangat sulit,” jelasnya.

Bagi Damkarmatan, kejadian di Loa Ipuh kembali menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di kawasan padat tidak hanya bergantung pada jumlah armada.

Akses jalan, sumber air, serta kemampuan menjangkau bagian dalam permukiman juga menentukan kecepatan petugas mengendalikan api.

Tujuh Unit Dikerahkan

Fida menyebut tujuh unit yang berada di Tenggarong dikerahkan ke lokasi.

Sementara unit tangki berkapasitas besar berada di wilayah lain, termasuk Muara Badak dan Sanga-Sanga.

Damkarmatan juga memiliki pola dukungan dari pos terdekat apabila kondisi membutuhkan tambahan armada.

Dalam penanganan kebakaran Loa Ipuh, kobaran api disebut dapat dikendalikan sekitar 45 menit setelah proses pemadaman berlangsung.

Namun, proses hingga api benar-benar dinyatakan padam berlangsung lebih lama. Berdasarkan kronologi penanganan, kebakaran dilaporkan mulai sekitar pukul 23.50 WITA dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 01.35 WITA.

Dengan demikian, angka 45 menit lebih tepat merujuk pada waktu pengendalian kobaran, bukan keseluruhan proses pemadaman.

Data Bangunan Diperbarui

Fida mengatakan informasi awal yang diterima melalui komunikasi petugas di lapangan menyebut bangunan terdampak kurang dari 10 unit.

Namun, ia menegaskan angka tersebut masih harus diverifikasi bersama perangkat lingkungan.

“Informasi awal yang disampaikan petugas melalui radio, jumlah rumah terdampak diperkirakan kurang dari 10 unit. Namun petugas juga belum bisa memastikan jumlah pastinya. Karena itu kami akan mencari ketua RT untuk memastikan kembali,” katanya.

Data kepolisian kemudian mencatat 11 bangunan terdampak kebakaran, terdiri atas rumah warga, bangunan sewaan, serta bangunan yang digunakan sebagai asrama atau rumah singgah Kecamatan Tabang.

Kebakaran juga menewaskan dua anak dan menyebabkan satu orang mengalami luka bakar.

Untuk menjaga perlindungan identitas korban anak, nama keduanya tidak perlu dimuat dalam pemberitaan ini.

Petugas Tetap Siaga Pascapemadaman

Setelah api berhasil dipadamkan, personel Damkarmatan masih melakukan pemantauan lokasi untuk memastikan tidak ada titik panas yang kembali memicu kebakaran.

Tim penyelamatan juga dikerahkan ketika menerima informasi adanya warga yang belum ditemukan.

“Saya sudah membentuk tim dan meminta mereka berkoordinasi dengan kepala seksi penyelamatan untuk menelusuri sumber informasi. Selagi personel masih berkumpul dan peralatan masih tersedia, kami meminta agar informasi itu ditelusuri sampai ada kepastian,” ujar Fida.

Kedua anak yang dilaporkan belum ditemukan kemudian ditemukan meninggal dunia setelah proses pencarian dilakukan di area kebakaran.

Fida mengatakan kesiapan personel maupun armada harus terus dijaga karena kebakaran permukiman dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Kebakaran permukiman bisa terjadi kapan saja. Personel harus siap dan unit pemadam kebakaran juga harus dalam kondisi siap digunakan,” katanya.

Damkarmatan juga mempertimbangkan tetap menempatkan personel di lokasi hingga pagi untuk mengantisipasi munculnya titik panas kembali.

Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian. Dugaan awal mengarah pada gangguan kelistrikan di salah satu rumah, tetapi penyebab pasti masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut.

Kerugian materiil sementara diperkirakan sekitar Rp3 miliar. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait