BRAVO13.ID, Tenggarong - Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara mencatat 25.520 kunjungan terkait diabetes melitus di puskesmas sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut belum termasuk pelayanan diabetes di rumah sakit.
Data itu menjadi perhatian di tengah penguatan deteksi dini penyakit tidak menular melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan di puskesmas.
Dinkes Kukar pada akhir September juga melakukan koordinasi dan evaluasi pelaksanaan CKG di 32 puskesmas. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat deteksi dini penyakit kronis dan tindak lanjut terhadap warga yang ditemukan memiliki faktor risiko kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kukar Ismi Mufiddah mengatakan pencegahan diabetes tidak cukup hanya dengan mengurangi gula pasir. Pola konsumsi makanan dan minuman secara keseluruhan juga harus diperhatikan.
“Jangan berpikir gula itu hanya didapat pada gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan gulanya. Karbohidratnya juga ada kandungan gulanya. Jadi dapat gula itu tidak sekadar dari gula,” kata Ismi.
Secara nutrisi, karbohidrat dari makanan seperti nasi akan dicerna tubuh menjadi glukosa. Karena itu, jumlah konsumsi karbohidrat juga berpengaruh terhadap pengendalian gula darah.
Minuman Manis Jadi Perhatian
Ismi menyoroti kebiasaan mengonsumsi minuman yang mengandung tambahan pemanis.
Es teh, minuman kekinian, hingga jus buah dapat membawa asupan gula tambahan apabila dicampur dengan gula, susu manis, atau bahan pemanis lainnya.
“Boba, jus pun yang katanya jus sehat karena itu buah, tapi ditambah susu. Nah, itu yang membuat tidak sehat,” ujarnya.
Ia mendorong masyarakat lebih memilih buah utuh dan mengurangi tambahan pemanis pada makanan maupun minuman.
Pengurangan konsumsi gula, menurutnya, juga dapat dilakukan secara bertahap agar menjadi kebiasaan yang lebih mudah dipertahankan.
Usia Produktif Paling Banyak
Data Dinkes Kukar menunjukkan kunjungan terkait diabetes tidak hanya berasal dari kelompok lanjut usia.
Kelompok usia 18–59 tahun tercatat sebagai kelompok dengan jumlah tertinggi. Sementara kelompok usia 60 tahun ke atas menyumbang sekitar 35 persen dari data pelayanan tersebut.
Dinkes juga mencatat 69 kasus pada kelompok usia 5–18 tahun.
Kondisi tersebut membuat edukasi pola makan dan deteksi dini tidak lagi hanya ditujukan kepada kelompok lanjut usia.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan pada 2026 juga memprioritaskan tindak lanjut terhadap tiga faktor risiko penyakit tidak menular melalui CKG, yakni tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Hingga akhir Juli, pemeriksaan gula darah telah mencapai 83 persen dari sasaran pemeriksaan CKG.
Diabetes Bisa Memicu Komplikasi
Ismi mengingatkan diabetes yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih serius.
“Kalau kamu kena diabetes melitus, maka bisa terjadi komplikasi ke jantung, komplikasi ke ginjal, komplikasi pada mata. Juga bisa menyebabkan kecacatan,” katanya.
Karena itu, pencegahan tidak hanya dilakukan ketika seseorang telah mengalami keluhan.
Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang disadari sehingga pemeriksaan gula darah dan tindak lanjut hasil skrining menjadi bagian penting dari deteksi dini.
Pilihan Makanan Sehat Perlu Diperluas
Ismi menilai salah satu tantangan pencegahan diabetes adalah mudahnya masyarakat menemukan makanan dan minuman tinggi gula dan lemak dibandingkan pilihan yang lebih sehat.
“Makanan dan minuman yang sehat pasti harus sekarang. Itu susah kita temui yang jualan. Yang lebih mudah ditemukan yang tinggi gula, tinggi lemak, tinggi minyak,” ungkapnya.
Ia mencontohkan makanan kukusan yang sebelumnya relatif mudah ditemukan tetapi kini semakin jarang tersedia.
“Kukusan itu agak banyak, tapi sekarang hilang lagi. Tidak ada lagi, mungkin karena tidak laku,” katanya.
Dinkes Kukar mendorong masyarakat tidak hanya mengurangi konsumsi gula, tetapi juga memperhatikan pola makan, memilih sumber makanan yang lebih sehat, serta memanfaatkan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui risiko sedini mungkin.
Angka 25.520 tersebut merupakan jumlah kunjungan pelayanan terkait diabetes di puskesmas, bukan jumlah orang atau pasien unik. Dengan demikian, satu orang dapat tercatat lebih dari satu kali apabila melakukan kunjungan berulang selama periode Januari–September 2026. (adv)

