BRAVO13.ID, Tenggarong — Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri bersama Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji meninjau penanganan warga terdampak kebakaran di RT 33 Kelurahan Melayu, Tenggarong, Kamis (8/10/2026).
Dalam penanganan pascakebakaran, Pemkab Kukar memprioritaskan pemulihan kebutuhan fisik dan kondisi psikologis warga. Sementara Pemprov Kaltim mulai melihat langkah mitigasi melalui penguatan sumber air di kawasan permukiman padat.
Aulia mengatakan bantuan kepada warga perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang benar-benar muncul selama masa pemulihan.
“Kita berupaya bantuan-bantuan yang diberikan ini sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh warga masyarakat kita,” kata Aulia.
Salah satu kebutuhan yang disampaikan warga adalah perlengkapan memasak. Pemkab kemudian berkoordinasi dengan Baznas melalui pemerintah kecamatan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
Menurut Aulia, bantuan bahan makanan tidak akan maksimal apabila warga kehilangan perlengkapan untuk mengolahnya.
“Kalau seandainya bahan baku masakannya banyak, tapi peralatan memasaknya tidak ada, bahan makanan itu tidak bisa terolah dengan baik,” jelasnya.
Pemenuhan kebutuhan warga melalui bantuan yang disesuaikan dengan kondisi korban juga menjadi fokus Pemkab dalam peninjauan 8 Oktober.
Kondisi Psikis Warga Ikut Dipantau
Selain pemulihan kebutuhan fisik, Aulia meminta kondisi psikologis warga tidak luput dari perhatian.
Ia meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan memastikan seluruh keluarga terdampak tetap terpantau selama proses pemulihan.
“Dari 75 kepala keluarga yang terdampak, harus kita pastikan bahwa semuanya bisa terkelola dengan baik. Jangan sampai ada korban yang kehilangan dalam proses monitoring kita,” ujarnya.
Menurut Aulia, kehilangan rumah dan harta benda dalam kebakaran dapat meninggalkan tekanan bagi warga. Karena itu, penanganan tidak cukup berhenti pada penyaluran bahan pokok maupun bantuan barang.
Pemerintah, relawan, komunitas, dan lingkungan sekitar juga diharapkan saling membantu memantau warga selama menjalani masa pemulihan.
Kebutuhan anak-anak yang bersekolah turut menjadi perhatian. Aulia mengatakan perlengkapan sekolah, termasuk seragam yang dibutuhkan keluarga terdampak, telah dipersiapkan.
Pemkab juga mengarahkan agar aktivitas sehari-hari warga, baik sekolah maupun pekerjaan, dapat kembali berjalan secepat mungkin.
Seno Dorong Sumur Bor dan Hidran
Sementara itu, Seno Aji menyoroti aspek mitigasi setelah melihat dampak kebakaran di kawasan permukiman padat tersebut.
Menurutnya, keberadaan sumber air yang mudah dijangkau diperlukan agar kebakaran dapat ditangani lebih cepat dan tidak meluas.
Pemprov Kaltim akan melihat titik-titik yang memungkinkan untuk pengembangan sumur bor serta fasilitas hidran di kawasan permukiman.
“Kita akan punya beberapa titik hidran yang ada di perkampungan. Kita akan memasang beberapa sumur bor di permukiman-permukiman padat. Jadi, jika terjadi kebakaran, kita bisa segera mengantisipasinya,” kata Seno.
Rencana tersebut masih memerlukan pemetaan lokasi dan kebutuhan teknis sebelum direalisasikan.
Penguatan sumber air menjadi relevan karena keterbatasan pasokan air merupakan salah satu persoalan yang muncul dalam penanganan kebakaran RT 33. Pemkab Kukar sebelumnya juga mulai mengevaluasi kebutuhan sumber air dan akses pemadam di kawasan padat penduduk.
Dengan pembagian penanganan tersebut, fase pascakebakaran tidak hanya diarahkan pada pemulihan warga yang kehilangan tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pada penguatan kesiapsiagaan kawasan untuk menghadapi risiko kebakaran berikutnya. (*)

