Bravo 13
Ziarahi Makam Aji Imbut, Aulia: Sejarah Jadi Bekal Membangun KukarBupati Kukar Aulia Rahman Basri berziarah ke makam Aji Imbut pada HUT ke-244 Tenggarong dan mengajak menjadikan sejarah sebagai bekal pembangunan.
Oleh Bobby Lolowang2026-09-28 13:08:00
Ziarahi Makam Aji Imbut, Aulia: Sejarah Jadi Bekal Membangun Kukar
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri bersama jajaran pemerintah daerah dan Kesultanan mengikuti ziarah ke makam Aji Imbut serta makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam rangka Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026). (Bobby/Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Tenggarong - Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengajak masyarakat menjadikan sejarah berdirinya Tenggarong sebagai bekal dalam membangun daerah. Pesan itu disampaikan saat ziarah ke makam Aji Imbut dan para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam rangka Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, Senin (28/9/2026).

Aulia mengatakan ziarah tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang tokoh dan perjalanan masa lalu, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi sekarang.

“Hari ini kita melaksanakan acara ziarah makam pendiri Kota Tenggarong, Sultan Aji Imbut, dan ziarah makam para raja di makam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” kata Aulia.

Peringatan Hari Jadi Tenggarong setiap 28 September berkaitan dengan peristiwa perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Pemarangan ke kawasan yang kemudian berkembang menjadi Tenggarong pada 28 September 1782. Catatan kebudayaan pemerintah juga mencatat Aji Imbut atau Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan pusat pemerintahan tersebut ke Tepian Pandan.

Peristiwa 28 September 1782 kemudian menjadi tonggak yang digunakan dalam penetapan hari jadi Tenggarong. Dokumentasi sejarah pemerintah mencatat peringatan tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai hari jadi kota sejak 1972.

Aulia mengatakan perjalanan Aji Imbut memberikan pelajaran mengenai keberanian melakukan perubahan ketika kondisi menuntut sebuah langkah baru.

“Kedua, pelajaran yang bisa kita ambil adalah hijrah atau perpindahan itu menjadi suatu keniscayaan untuk sesuatu yang lebih baik,” ujarnya.

Menurut Aulia, semangat tersebut tetap relevan bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi perkembangan zaman.

Ia menilai sejarah tidak cukup hanya dikenang sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi dapat menjadi bahan untuk melihat arah pembangunan daerah saat ini.

“Kita sebagai generasi penerus hari ini memandang ziarah ini bukan hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah, tetapi juga merupakan suatu refleksi. Ini merupakan suatu bekal bagi kami dalam membangun Kabupaten Kutai Kartanegara,” katanya.

Mengenang Perjalanan Tenggarong

Catatan sejarah menyebut pusat pemerintahan Kutai Kartanegara sebelumnya berada di Pemarangan sebelum kemudian dipindahkan ke Tepian Pandan. Kawasan tersebut selanjutnya berkembang sebagai Tenggarong dan menjadi pusat pemerintahan Kutai Kartanegara.

Peringatan HUT ke-244 Tenggarong pada 2026 juga diisi dengan ziarah ke makam Aji Imbut dan makam para raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang sejarah kota sekaligus nilai yang diwariskan para pendahulu.

Ziarah dilaksanakan setelah rangkaian prosesi Merebahkan Tiang Ayu di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Prosesi tersebut sekaligus menandai berakhirnya rangkaian adat Erau 2026.

Bagi Aulia, perjalanan panjang Tenggarong menjadi pengingat bahwa perkembangan daerah berlangsung melalui proses dari generasi ke generasi.

Karena itu, penghormatan terhadap sejarah menurutnya perlu berjalan beriringan dengan upaya menata masa depan daerah.

Ziarah dalam rangka Hari Jadi ke-244 Tenggarong tersebut sekaligus menjadi penghubung antara perjalanan Aji Imbut pada 1782 dengan generasi yang hari ini melanjutkan pembangunan Tenggarong dan Kutai Kartanegara. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait