BRAVO13.ID, Tenggarong - Rangkaian ritual malam Erau Adat Kutai 2026 memiliki satu pengecualian. Pada Kamis (24/9/2026) malam atau malam Jumat, prosesi Bepelas tidak digelar dan digantikan dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Agenda tersebut menjadi bagian dari rangkaian Erau yang memadukan tradisi Kesultanan dengan nilai-nilai keagamaan yang berkembang dalam perjalanan sejarah Kutai Kartanegara.
Jadwal Erau 2026 mencatat Bepelas IV digelar pada Rabu malam, kemudian pada Kamis malam rangkaian diisi Maulid Al-Barzanji. Prosesi Bepelas kembali dilanjutkan pada Jumat malam dengan Bepelas V.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar Heriansyah, yang bergelar Pangeran Hario Noto Negoro, mengatakan Maulid Al-Barzanji merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam lingkungan Kesultanan.
“Maulid Berzanji ini sudah menjadi bagian dari tradisi yang turun-temurun, yang telah diwariskan para leluhur kita. Setiap malam Jumat kita akan mengadakan Maulid Berzanji dalam pelaksanaan Erau Adat yang dilaksanakan oleh pihak Kesultanan,” kata Heriansyah.
Status Heriansyah sebagai Kepala Disdikbud Kukar dan gelar Pangeran Hario Noto Negoro juga tercatat dalam publikasi terkait rangkaian Erau 2026.
Menurut Heriansyah, keberadaan Maulid Al-Barzanji dalam rangkaian Erau berkaitan dengan perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara setelah masuknya Islam.
Ia mengatakan unsur adat yang telah berkembang sebelumnya kemudian berjalan berdampingan dengan tradisi keagamaan.
“Kerajaan Kutai dulu sudah bertransformasi dari Hindu ke Islam. Maka setiap malam Jumat kita isi dengan Maulid Berzanji. Harapannya kita bisa mendapatkan berkah dari junjungan kita Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Publikasi resmi Disdikbud Kukar juga mencatat kegiatan Maulid Al-Barzanji pada malam tersebut diisi pembacaan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan tausiah.
Heriansyah mengatakan keberadaan unsur keagamaan dalam Erau menunjukkan bahwa tradisi budaya dan agama tidak ditempatkan saling berseberangan.
“Budaya dan agama itu harus berdampingan. Para Sultan terdahulu selalu didampingi para ulama di sisi beliau,” katanya.
Menurut dia, keberadaan ulama di lingkungan Kesultanan turut berperan dalam menjaga pelaksanaan tradisi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.
“Para Sultan terdahulu pasti didampingi para ulama untuk membimbing, jangan sampai itu lepas dari koridor-koridor syariat Islam,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan Kamis malam tersebut, Maulid Al-Barzanji juga dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin bersama kerabat Kesultanan, jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, masyarakat, dan undangan.
Setelah malam Maulid Al-Barzanji, rangkaian Bepelas kembali dilanjutkan hingga malam ketujuh menjelang rangkaian puncak Erau.
Keberadaan Maulid Al-Barzanji di antara rangkaian Bepelas memperlihatkan jejak pertemuan antara adat Kesultanan Kutai Kartanegara dan tradisi Islam yang terus dipertahankan dalam penyelenggaraan Erau. (adv)

