BRAVO13.ID, Samarinda — Tim Subnasional Strategi Pengkajian Edukasi Alternatif Komunikasi (SPEAK) Indonesia memperkuat kapasitas komunikasi para pendamping masyarakat di wilayah pesisir untuk mendukung perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur (Kaltim).
Penguatan kapasitas tersebut dilakukan melalui Pelatihan Strategi Komunikasi dan Toolkit Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian Kehutanan yang berlangsung di Samarinda, 6-7 Oktober 2026.
“Pendamping dan penguat program perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan secara efektif, membangun dialog, mendorong partisipasi masyarakat, serta memfasilitasi proses belajar bersama,” kata Pelaksana Penguatan Kapasitas SPEAK Indonesia, Muhammad Arbi Halim di Samarinda, Selasa (6/10/2026)
Ia mengatakan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program pembangunan berbasis masyarakat, termasuk upaya perlindungan ekosistem mangrove yang melibatkan masyarakat pesisir secara langsung.
Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka terdiri atas unsur pemerintah desa, kelompok masyarakat, kelompok pengelola mangrove, pendamping lapangan, mitra program, serta pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan M4CR di wilayah pesisir Kaltim.
Menurut Arbi, pelatihan tidak hanya memperkenalkan strategi komunikasi M4CR, tetapi juga memberikan ruang praktik dan simulasi agar peserta mampu menerapkannya ketika melakukan pendampingan masyarakat di lapangan.
Peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik komunikasi efektif, fasilitasi kelompok, public speaking, pengelolaan diskusi partisipatif, serta penggunaan berbagai materi komunikasi dan media edukasi yang dikembangkan dalam program M4CR.
Sementara itu, Provincial Project Implementing Unit (PPIU) Manager Program M4CR Provinsi Kaltim, Asman Azis, mengatakan pelatihan tersebut menjadi momentum untuk menguji berbagai toolkit M4CR sebagai sarana edukasi, kampanye, dan penguatan kapasitas masyarakat dalam menjaga mangrove.
Menurut Asman, penggunaan toolkit perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan karakter wilayah pesisir tempat pendampingan dilakukan. Karena itu, pengalaman peserta selama bekerja di lapangan menjadi bagian penting untuk melihat apakah materi yang disiapkan benar-benar mudah dipahami dan dapat digunakan dalam proses pendampingan.
“Jadi kita tidak hanya melihat dari sisi materi, tetapi bagaimana toolkit ini bisa digunakan oleh pendamping ketika berhadapan langsung dengan masyarakat. Masukan dari teman-teman di lapangan sangat penting untuk penyempurnaan,” kata Asman.
Ia mengatakan komunikasi yang efektif diharapkan dapat membantu masyarakat memahami tujuan rehabilitasi dan pengelolaan mangrove, sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menjaga kawasan setelah program berjalan.
“Harapannya, pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi bisa dipahami dan diterapkan masyarakat. Karena keberlanjutan mangrove sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan,” ujarnya.
Peserta pun diminta memberikan masukan berdasarkan pengalaman di lapangan agar materi komunikasi dan panduan yang digunakan dalam program semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir. Dengan demikian, pendampingan diharapkan semakin efektif, sejalan dengan target M4CR Kaltim merehabilitasi 41.000 hektare mangrove.
Melalui kegiatan tersebut, Asman berharap kapasitas komunikasi dan fasilitasi para penguat program meningkat sehingga pesan mengenai pentingnya perlindungan mangrove dapat disampaikan secara lebih efektif kepada masyarakat. (*)

