BRAVO13.ID, Tenggarong - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara memprioritaskan wilayah terdampak kekeringan sebagai sasaran operasi pasar murah. Kawasan ulu seperti Tabang dan Kembang Janggut menjadi perhatian setelah debit air sungai mengalami penurunan.
Kepala Bidang Pemasaran Produk Dalam Negeri dan Pengendalian Barang Pokok Disperindag Kukar Muhammad Bustani mengatakan kondisi serupa juga terjadi di Kota Bangun, dengan sejumlah jalur sungai mulai mengalami pendangkalan.
“Untuk daerah-daerah yang terdampak kekeringan, terutama wilayah ulu seperti Tabang dan Kembang Janggut, kondisinya cukup terdampak karena sungai di sana sudah mulai mengering. Kalau dari Kota Bangun, kondisi sungai juga sudah sangat dangkal,” kata Bustani saat ditemui di Gedung B Kantor Disperindag Kukar, Selasa (22/9/2026).
Menurut dia, Disperindag akan kembali memetakan lokasi operasi pasar berdasarkan tingkat kebutuhan dan kondisi masing-masing wilayah.
“Daerah-daerah tersebut nantinya akan kami kunjungi kembali, terutama wilayah yang paling terdampak,” ujarnya.
Penurunan debit sungai menjadi salah satu pertimbangan karena jalur air masih berperan penting dalam mobilitas dan distribusi barang di sejumlah kawasan ulu Kukar.
Bustani mengatakan operasi pasar murah telah dilaksanakan secara keliling di berbagai kecamatan. Desa Kedang Ipil di Kecamatan Kota Bangun Darat menjadi salah satu lokasi yang telah dijangkau.
Menurut catatan Disperindag, pelaksanaan program hingga saat itu telah mencapai sekitar 54 titik. Jumlah tersebut juga tercatat dalam laporan lain mengenai operasi pasar murah Pemkab Kukar pada 22 September 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Disperindag Kukar Burhanuddin mengatakan operasi pasar dilakukan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Pelaksanaannya melibatkan pemerintah kecamatan dan didukung pasokan sejumlah komoditas dari Perum Bulog.
“Untuk beras dan beberapa komoditas lainnya, pasokannya berasal dari Bulog yang bekerja sama dengan kami. Kami menyiapkan transportasi, sementara teman-teman di lapangan yang melaksanakan distribusinya,” kata Burhanuddin.
Sejumlah kebutuhan pokok disediakan dalam kegiatan tersebut, antara lain beras, minyak goreng dan gula.
Bustani mengatakan beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual seharga Rp57.500. Jika dihitung berdasarkan ukuran kemasan, harga tersebut setara Rp11.500 per kilogram.
Minyak goreng dijual sekitar Rp15.700, sementara gula sekitar Rp14.500 per kilogram.
Dalam satu titik operasi pasar, pasokan beras dapat mencapai sekitar dua ton. Jumlah komoditas lainnya menyesuaikan ketersediaan stok serta kebutuhan lokasi yang menjadi sasaran.
Untuk menjaga pemerataan, pembelian beras dibatasi maksimal lima kemasan berukuran 5 kilogram atau total 25 kilogram per keluarga.
“Kami juga menerapkan pembatasan pembelian beras. Maksimal lima kemasan untuk setiap pembeli. Kalau satu kemasan berisi 5 kilogram, berarti maksimal 25 kilogram per keluarga,” ujar Bustani.
Disperindag juga berkoordinasi dengan Pertamina untuk penyediaan LPG 3 kilogram. Namun, ketersediaannya tetap menyesuaikan stok yang tersedia pada saat kegiatan berlangsung.
Menurut Bustani, jumlah pasokan untuk wilayah terdampak kekeringan tidak ditetapkan secara seragam.
Disperindag akan terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, koordinasi dengan pemerintah kecamatan, serta kemampuan anggaran, termasuk dukungan subsidi ongkos angkut.
“Untuk daerah yang terdampak kekeringan, jumlah pasokan tidak langsung kami tetapkan harus 2 atau 3 ton. Kami akan melihat kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan,” katanya.
Operasi pasar murah selama ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok dan mengendalikan inflasi, termasuk menjelang hari besar keagamaan.
Namun, kondisi kekeringan membuat sasaran program kembali disesuaikan.
“Program ini sebenarnya dilaksanakan untuk membantu masyarakat pada hari-hari besar keagamaan sekaligus menanggulangi dampak inflasi. Namun, tahun ini karena ada dampak kekeringan, pelaksanaannya kami arahkan kembali ke daerah-daerah yang membutuhkan,” ujar Bustani.
Disperindag Kukar selanjutnya akan memetakan kawasan yang paling terdampak untuk menentukan lokasi serta besaran pasokan pada operasi pasar berikutnya. (adv)

