BRAVO13.ID, Tenggarong - Prosesi Bepelas menjadi salah satu rangkaian sakral Erau Adat Kutai 2026 yang berlangsung selama tujuh malam. Ritual Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tersebut dimaknai sebagai proses penguatan mental dan spiritual Sultan dalam menjalankan kepemimpinan.
Bepelas malam pertama dilaksanakan di lingkungan Keraton Kesultanan atau Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (20/9/2026). Prosesi dipimpin Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Aji Muhammad Arifin.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara Heriansyah, yang bergelar Pangeran Hario Noto Negoro, menjelaskan Bepelas memiliki makna khusus bagi Sultan.
“Bepelas yang dilakukan Ayahanda Sultan malam ini bertujuan untuk menguatkan semangat dan mental beliau, agar jiwa dan raganya menjadi kuat. Dengan begitu, harapannya beliau dapat menjalankan kepemimpinan dengan arif dan bijaksana,” kata Heriansyah.
Makna tersebut sejalan dengan catatan mengenai tradisi Bepelas yang menempatkan ritual ini sebagai bagian dari penguatan jiwa dan raga Sultan dalam menjalankan pemerintahan dan adat.
Setiap malam Bepelas memiliki penanda berbeda melalui jumlah dentuman meriam.
Pada malam pertama, satu dentuman terdengar setelah rangkaian prosesi Sultan. Jumlah tersebut bertambah mengikuti urutan malam hingga tujuh dentuman pada malam ketujuh.
“Bepelas malam pertama ditandai dengan satu leduman. Prosesi diawali ketika Sultan menginjakkan kaki, kemudian menuju Gong Raden Galuh, dan selanjutnya ditandai dengan leduman sebagai penanda sudah memasuki malam Bepelas ke berapa,” ujar Heriansyah.
Dalam rangkaian ritual, Sultan meniti Tapak Leman kemudian menginjak pusaka Gong Raden Galuh. Dentuman meriam selanjutnya menjadi penanda urutan malam pelaksanaan Bepelas.
Prosesi juga dirangkai dengan sejumlah tari sakral Kesultanan, di antaranya Tari Kanjar Bini dan Tari Ganjur Laki.
Tari Ganjur merupakan tarian pria dalam tradisi istana Kutai, sedangkan Tari Kanjar Bini dibawakan perempuan sebagai bagian dari tradisi Kesultanan. Keduanya termasuk kesenian yang tercatat dalam pelestarian adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Tari ini merupakan tarian sakral yang ada di dalam keraton. Karena sifatnya sakral, tarian ini tidak boleh dilakukan di luar keraton,” kata Heriansyah.
Pada Bepelas malam kedua, Senin (21/9/2026), sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Kukar turut mengikuti rangkaian adat tersebut.
Mereka antara lain Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Kukar Akhmad Taufik Hidayat, Kepala BKPSDM Kukar Rendra Abadi, serta sejumlah pejabat perangkat daerah lainnya. Kehadiran mereka juga tercatat dalam publikasi resmi Pemkab Kukar.
Akhmad Taufik mengatakan pembagian kehadiran OPD dilakukan secara bergiliran untuk mendukung rangkaian Erau hingga selesai.
“Alhamdulillah, kegiatan Bepelas 2 malam hari ini berjalan dengan lancar. Dari rangkaian kegiatan spiritual juga sudah berjalan dengan baik. Ayahanda Sultan hadir, kemudian beberapa OPD juga hadir sesuai dengan tugas yang telah dibagi untuk malam ini,” katanya.
Ia berharap seluruh rangkaian Erau dapat berlangsung lancar hingga penutupan.
Menurut Taufik, keterlibatan langsung dalam Bepelas juga memberikan pengalaman untuk mengenal lebih dekat adat dan budaya Kutai.
Ia bahkan turut mengikuti Tari Kanjar Laki bersama kerabat Kesultanan dalam rangkaian malam kedua. Hal tersebut juga dikonfirmasi dalam keterangan resmi Pemkab Kukar.
“Alhamdulillah, kita bisa merasakan bagaimana adat dan budaya ini bisa kita nikmati, karena ini merupakan bagian dari adat budaya yang harus terus dilestarikan,” ujarnya.
Keterlibatan perangkat daerah dalam rangkaian Bepelas menjadi bagian dari dukungan Pemkab Kukar terhadap pelaksanaan sekaligus pelestarian tradisi Erau Adat Kutai. (adv)

