BRAVO13.ID, Samarinda — PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meraih predikat Gold dalam CSR & PDB Awards 2026 dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Penghargaan diberikan atas pelaksanaan program Pengembangan Kawasan Terpadu Berbasis Integrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Program yang dijalankan di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, tersebut menghubungkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan usaha masyarakat dalam satu ekosistem pemberdayaan.
Berdasarkan keterangan tertulis Pupuk Kaltim, program yang dikembangkan sejak 2021 itu mengolah limbah pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Limbah peternakan dan pertanian antara lain diolah menjadi biogas. Energi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk membantu proses pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memenuhi kebutuhan energi rumah tangga masyarakat rentan di sekitar kawasan program.
Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra mengatakan PKT BISA dirancang berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Pendekatan ekonomi sirkular digunakan agar hasil dari satu kegiatan dapat mendukung kegiatan lainnya.
“Utamanya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, serta membangun sistem yang dapat terus berjalan setelah intervensi program. Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” terang Rafli, Selasa (29/9/2026).
Menurut Rafli, pengembangan program dilakukan secara bertahap dengan melibatkan sejumlah pihak.
“Sejak dikembangkan pada 2021, PKT BISA secara bertahap membangun ekosistem agribisnis yang mengintegrasikan berbagai sektor potensial di Desa Kepuhrejo. Pupuk Kaltim juga menggandeng berbagai pihak terkait dalam pengembangannya,” lanjutnya.
Melalui sistem tersebut, limbah dari satu aktivitas dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk kegiatan lain. Selain menjadi sumber energi dan kompos, hasil pertanian serta perikanan dikembangkan menjadi produk olahan oleh kelompok usaha masyarakat.
“Prinsip yang kami dorong adalah bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapat menjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat,” kata Rafli.

Produksi Pertanian dan Pendampingan Petani
Pupuk Kaltim melaporkan bahwa pada 2025, petani binaan di Babadan mampu meningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun.
Dalam satu periode, produksi padi disebut mencapai 70 ton dari lahan seluas 10 hektare. Produksi kacang tanah mencapai 5 ton dari lahan 1,1 hektare, sedangkan jagung menghasilkan 81 ton dari lahan 8 hektare.
Peningkatan produktivitas tersebut didukung program Agrosolution yang mencakup pendampingan pengolahan lahan, pemupukan berimbang, pengendalian hama, pengembangan usaha, dan akses pasar. Total lahan yang dikelola dalam program mencapai 19,1 hektare.
Program tersebut juga menghubungkan kelompok pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan kompos, UMKM, dan kelompok perempuan.
Pada sektor peternakan, masyarakat mendapat pendampingan untuk meningkatkan kualitas pakan dan pengelolaan usaha. Sementara hasil budidaya perikanan dikembangkan menjadi produk olahan agar memberikan nilai tambah bagi kelompok usaha.
Menurut keterangan perusahaan, sejumlah produk olahan UMKM Babadan telah dipasarkan ke luar daerah.
“Kami ingin program ini tumbuh menjadi milik masyarakat. Pupuk Kaltim hadir sebagai katalisator, membuka akses, membangun kapasitas, dan memperkuat ekosistemnya. Selanjutnya, masyarakat bersama seluruh mitra kolaborasi menjadi penggerak utama keberlanjutan program,” tutur Rafli.
Diproyeksikan Menjadi Pusat Agroedukasi
Pupuk Kaltim memproyeksikan PKT BISA berkembang menjadi pusat agroedukasi terpadu. Pengembangan selanjutnya juga diarahkan untuk memperluas jaringan pemasaran produk masyarakat dan membuka peluang penerapan program serupa di wilayah lain.
Menurut Rafli, kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain diperlukan agar program pemberdayaan dapat berlangsung dalam jangka panjang.
“Kolaborasi menjadi kunci dalam memastikan program pembangunan desa memiliki dampak jangka panjang. Sinergi lintas sektor diperlukan untuk mengembangkan inovasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah. Hal ini yang akan terus kami kembangkan ke depannya,” tambah Rafli.
Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria mengapresiasi kontribusi perusahaan penerima CSR & PDB Awards 2026 dalam mendukung pembangunan desa.
Menurut Riza, keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial dapat melengkapi pembangunan pemerintah, terutama dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Kami harap kolaborasi seperti ini terus diperkuat, karena pembangunan desa membutuhkan sinergi seluruh pihak. Kalau desanya maju, Indonesianya maju,” ujar Riza saat penyerahan penghargaan di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Riza juga mendorong praktik pemberdayaan yang melibatkan masyarakat dan mengembangkan potensi lokal agar terus diperluas.
“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus terus diperkuat dalam mendukung pembangunan desa. Ketika desanya maju dan berdaya, maka Indonesia pun akan semakin maju,” tutupnya. (*)

