BRAVO13.ID, Loa Kulu – PT Multi Harapan Utama (MHU) dan delegasi sejumlah perusahaan engineering asal Jerman mulai menjajaki peluang kolaborasi teknologi pertambangan di Kalimantan Timur. Penjajakan berlangsung melalui kunjungan lapangan ke operasional MHU, Rabu (16/9/2026).
Pembahasan mencakup kemungkinan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional, keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, dan pengurangan emisi. Namun, proses tersebut masih berada pada tahap awal dan belum disertai pengumuman mengenai teknologi tertentu, proyek percontohan, ataupun kesepakatan kerja sama.
Menurut keterangan tertulis MHU, kunjungan itu merupakan bagian dari rangkaian forum bisnis dan kunjungan lapangan yang digagas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama German Engineering Federation (VDMA), serta didukung German-Indonesian Chamber of Industry and Commerce (EKONID).
Delegasi mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan sumber daya dan kegiatan pertambangan MHU. Perusahaan juga memaparkan program yang berkaitan dengan efisiensi, keselamatan, pengurangan emisi, reklamasi lahan pascatambang, dan pemanfaatan energi terbarukan.
Materi yang disampaikan MHU belum memuat data capaian dari program-program tersebut. Karena itu, manfaat terhadap keselamatan pekerja dan kinerja lingkungan masih menjadi sasaran yang hendak dieksplorasi, bukan hasil kolaborasi yang sudah dapat diukur.
Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar mengatakan kunjungan tersebut memberi kesempatan kepada perusahaan untuk bertukar pengalaman dan memperoleh perspektif mengenai perkembangan teknologi pertambangan.
“Kami menyambut baik kunjungan delegasi Jerman ke MHU. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk berbagi pengalaman mengenai kegiatan operasional pertambangan sekaligus mendapatkan perspektif baru mengenai perkembangan teknologi dan solusi engineering di industri pertambangan global,” ujar Kemal.
Melalui peninjauan lapangan, perusahaan-perusahaan Jerman disebut dapat mempelajari karakteristik dan kebutuhan operasional pertambangan di Indonesia. Sementara bagi MHU, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk menilai kesesuaian solusi yang ditawarkan dengan kebutuhan perusahaan.
MHU belum memerinci nama perusahaan yang mengikuti kunjungan maupun jenis teknologi yang dibicarakan. Belum disebutkan pula jadwal tindak lanjut ataupun skema kolaborasi yang akan ditempuh setelah pertemuan tersebut.
“Kami melihat ada ruang yang luas untuk saling belajar dan mengeksplorasi solusi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan. Harapannya, dialog ini dapat berkembang menjadi peluang kolaborasi di bidang teknologi, engineering, dan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi kegiatan operasional,” lanjut Kemal.
Dengan demikian, kunjungan tersebut baru membuka tahap penjajakan. Penerapan teknologi, dampak terhadap keselamatan dan lingkungan, serta bentuk kerja sama antara MHU dan perusahaan Jerman masih bergantung pada tindak lanjut setelah pertemuan. (*)

