Bravo 13
Grosir Pasar Pagi Dipusatkan di Lantai 6–7, Teknis Pemindahan Masih DibahasPedagang grosir Pasar Pagi Samarinda akan dipusatkan di lantai 6–7. Teknis pemindahan serta usulan penambahan eskalator masih dibahas.
Oleh Bobby Lolowang2026-09-07 18:47:00
Grosir Pasar Pagi Dipusatkan di Lantai 6–7, Teknis Pemindahan Masih Dibahas
Gedung Pasar Pagi Samarinda tampak dari luar pada malam hari. Pedagang grosir akan dipusatkan di lantai 6–7, tetapi teknis pemindahannya masih dibahas.

BRAVO13.ID, Samarinda – Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda menyatakan pedagang grosir Pasar Pagi akan dipusatkan di lantai 6–7, sementara eceran menempati lantai 2, 3, dan sebagian lantai 4. Penataan ini ditujukan untuk memudahkan pengunjung, tetapi teknis pemindahan grosir masih dibahas.

Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani mengatakan pembagian zona grosir dan eceran tersebut telah dibicarakan bersama pedagang.

“Kita sudah sepakat semua terkait grosir dan eceran. Lantai 6 dan 7 kita jadikan khusus grosir, sedangkan lantai 2, 3, dan sebagian lantai 4 difokuskan untuk eceran,” kata Nurrahmani saat ditemui di Pasar Pagi, Jalan Jenderal Sudirman, Senin (7/9/2026).

Disdag juga membuka kemungkinan penggabungan sejumlah petak apabila pedagang grosir membutuhkan area usaha yang lebih luas. Beberapa pedagang dapat menggunakan satu area secara bersama-sama meskipun petaknya tercatat atas nama berbeda.

“Kalau misal pedagang mau gabung, seperti gabung 10 orang jadi satu area grosir, silakan saja. Karena kan jualannya sama-sama grosiran, hanya beda nama toko,” ujarnya.

Nurrahmani menjelaskan, penggabungan tersebut tidak mengubah status masing-masing petak. Karena itu, pembatas antarlapak diminta menggunakan partisi yang dapat dibongkar dan dipasang kembali.

Selain penataan pedagang, Pemkot Samarinda menerima permintaan mengenai pemindahan eskalator dan penambahan eskalator di luar pintu masuk pasar. Usulan tersebut disampaikan untuk memudahkan pengunjung menjangkau lantai perdagangan, terutama lantai atas.

“Teknis penambahan eskalator dan lainnya, untuk tuntutannya telah masuk ke PUPR Samarinda,” kata Nurrahmani.

Namun, belum disebutkan keputusan maupun jadwal pelaksanaan usulan tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi mengatakan dialog rutin antara pemerintah dan pedagang diperlukan karena persoalan Pasar Pagi tidak dapat diselesaikan melalui satu kali pertemuan.

“Artinya saran kami dilaksanakan. Selama ini masalahnya ada di komunikasi antara pedagang dan pemerintah,” ujar Iswandi.

Menurutnya, teknis pemindahan pedagang grosir masih perlu dibahas lebih lanjut. Setelah persoalan penempatan pedagang diselesaikan, pembahasan dapat diarahkan pada upaya menarik kembali aktivitas masyarakat ke Pasar Pagi.

Pemkot Samarinda juga masih mengkaji kemungkinan perubahan konsep atau rebranding Pasar Pagi. Nurrahmani mengatakan kajian diperlukan karena perubahan konsep dapat memengaruhi peruntukan sejumlah area, termasuk zona pasar basah.

“Kalau mau di-rebranding lagi itu perlu ditelaah dulu. Karena kalau mau di-rebranding lagi, ada yang diubah. Bisa jadi pasar basah tidak ada. Maka itu perlu pembicaraan lebih lanjut,” jelasnya.

Di tengah penataan tersebut, Iswandi turut menyoroti kebutuhan biaya pengelolaan Pasar Pagi. Ia menyebut pembangunan gedung pasar menghabiskan anggaran lebih dari Rp468,5 miliar, sedangkan biaya operasionalnya diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar per tahun.

Sementara itu, penerimaan retribusi diproyeksikan sekitar Rp5 miliar per tahun apabila seluruh pedagang memenuhi kewajibannya. Berdasarkan perhitungan tersebut, Iswandi menilai Pemkot masih harus menanggung selisih sekitar Rp5 miliar.

“Jangan juga merasa lapak ini milik pribadi. Ini pasar milik Pemkot,” tegasnya.

Iswandi meminta pedagang mengikuti aturan pengelolaan pasar. Pada saat yang sama, Pemkot juga diminta tetap melibatkan dan mendengarkan masukan pedagang dalam setiap kebijakan.

“Tetap mendengarkan masukan dari pedagang agar komunikasi ke depan semakin cair,” pungkasnya. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait