Bravo 13
DPRD Nilai Gedung Bertingkat Tak Cocok untuk Pasar Tradisional SamarindaDPRD Samarinda menilai konsep gedung bertingkat Pasar Pagi belum sesuai pola belanja warga dan mendorong evaluasi pemanfaatan ruang.
Oleh Bobby Lolowang2026-08-25 12:44:00
DPRD Nilai Gedung Bertingkat Tak Cocok untuk Pasar Tradisional Samarinda
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Bobby/Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Samarinda – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai konsep gedung bertingkat yang diterapkan pada Pasar Pagi belum sepenuhnya sesuai dengan karakter perdagangan tradisional dan kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.

Ia mendorong Pemerintah Kota Samarinda mengevaluasi konsep pemanfaatan gedung baru tersebut agar aktivitas perdagangan dapat tumbuh dan keberadaannya benar-benar memberikan manfaat kepada pedagang.

“Tidak bisa kalau kita mau tetap ngotot dengan konsep ini, pasar tradisional yang dimodernisasi. Tidak masuk itu kayaknya. Kasihan nanti lama-lama pedagang yang jadi korban,” kata Iswandi, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, persoalan Pasar Pagi tidak hanya berkaitan dengan tampilan atau kualitas bangunan. Pembagian ruang dan akses menuju tempat berjualan juga perlu mempertimbangkan pola masyarakat saat berbelanja di pasar tradisional.

Iswandi mengatakan konsumen pasar tradisional cenderung mengutamakan kemudahan dan kecepatan ketika mencari barang. Kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya terakomodasi oleh gedung pasar yang memiliki sejumlah lantai.

“Kalau kita lihat dengan model bangunan itu kan tidak cocok sebenarnya,” ujarnya.

Iswandi mengingatkan bahwa mempertahankan konsep yang belum mampu menghidupkan aktivitas perdagangan berisiko membuat pedagang menanggung dampaknya.

Karena itu, ia membuka kemungkinan perubahan fungsi pada sejumlah lantai maupun zona perdagangan di Pasar Pagi. Area yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikaji untuk menampung jenis usaha atau produk yang lebih spesifik.

Meski demikian, perubahan fungsi tersebut masih berupa gagasan. Penentuannya membutuhkan kajian agar konsep baru sesuai dengan kondisi gedung, kebutuhan pedagang, dan kebiasaan masyarakat Samarinda.

Iswandi juga mengakui kondisi ekonomi masyarakat yang sedang lesu turut memengaruhi aktivitas perdagangan. Namun, faktor ekonomi dinilai tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan belum tumbuhnya kegiatan jual beli di Pasar Pagi.

“Pasar sudah dibangun mahal-mahal, tetapi ekonomi tidak bergerak. Memang kondisi ekonomi di luar juga sedang lesu, tetapi itu bukan satu-satunya kendala,” katanya.

Ia berharap evaluasi tidak berhenti pada perdebatan mengenai konsep pasar tradisional dan modern. Pemerintah perlu mencari bentuk pemanfaatan ruang yang mampu mempertemukan kebutuhan pedagang dengan pola belanja masyarakat.

Hasil kajian tersebut nantinya diharapkan menjadi dasar dalam menentukan apakah konsep Pasar Pagi tetap dipertahankan atau sebagian ruangnya perlu dialihfungsikan. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait