Bravo 13
Puji: Sekolah Favorit Bukan Satu-satunya Penentu Keberhasilan AnakSri Puji Astuti mengingatkan sekolah tertentu bukan satu-satunya penentu keberhasilan anak dan meminta keluarga aktif mendampingi proses belajar.
Oleh Bobby Lolowang2026-07-12 14:18:00
Puji: Sekolah Favorit Bukan Satu-satunya Penentu Keberhasilan Anak
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. (Kontributor Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengingatkan orang tua agar tidak menganggap sekolah tertentu sebagai satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan anak.

Menurutnya, kualitas pendidikan juga dipengaruhi pendampingan keluarga, lingkungan pergaulan, kebiasaan belajar, serta kemampuan anak menggunakan teknologi secara sehat.

“Kadang orang tua ingin anak mendapatkan pendidikan terbaik, tetapi dukungan terhadap proses belajarnya belum maksimal,” ujar Puji, Minggu, 12 Juli 2026.

Ia mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pembelajaran formal. Namun, proses pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar juga berlangsung di lingkungan keluarga.

Karena itu, menurut Puji, tanggung jawab pendidikan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada guru dan sekolah.

“Sekolah hanya salah satu bagian. Ada peran keluarga, lingkungan, bahkan perkembangan teknologi yang ikut membentuk anak-anak hari ini,” katanya.

Puji menilai masih terdapat orang tua yang menempatkan harapan terlalu besar pada sekolah yang dianggap unggulan. Ketika anak tidak diterima di sekolah tujuan, proses penerimaan murid kemudian dinilai gagal memenuhi harapan keluarga.

Ia mengingatkan nama besar sekolah tidak secara otomatis menjamin prestasi setiap anak. Kemampuan akademik dan perkembangan karakter dipengaruhi banyak faktor, termasuk kesesuaian lingkungan belajar dengan kebutuhan peserta didik.

Meski demikian, Puji menegaskan pemerintah tetap perlu meningkatkan kualitas sekolah secara merata. Pemerataan diperlukan agar orang tua tidak merasa hanya beberapa sekolah yang mampu memberikan pendidikan berkualitas.

Menurutnya, persoalan mengenai sekolah yang dianggap favorit juga menunjukkan masih adanya perbedaan persepsi masyarakat terhadap mutu fasilitas, tenaga pendidik, lingkungan belajar, dan prestasi antarsekolah.

Karena itu, perubahan pandangan orang tua harus berjalan bersamaan dengan perbaikan kualitas layanan pendidikan oleh pemerintah.

Puji juga menyoroti perubahan pola belajar anak di tengah perkembangan teknologi digital. Anak saat ini dapat memperoleh informasi dari internet, media sosial, dan berbagai platform di luar lingkungan sekolah.

Kemudahan tersebut dapat membantu proses belajar, tetapi juga membuat pendampingan keluarga semakin dibutuhkan.

Orang tua, kata dia, perlu mengetahui jenis informasi yang dikonsumsi anak, membantu membangun kebiasaan belajar, serta memberikan ruang komunikasi ketika anak menghadapi kesulitan.

“Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sekolah. Karena itu, keluarga tetap menjadi fondasi utama pendidikan,” ujarnya.

Puji berharap orang tua tidak hanya berfokus pada keberhasilan anak masuk ke sekolah tertentu. Perhatian juga perlu diberikan kepada proses belajar, perkembangan minat, kondisi psikologis, dan kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Sekolah bertanggung jawab menyediakan pembelajaran yang berkualitas, pemerintah memastikan pemerataan layanan, sedangkan keluarga mendampingi perkembangan anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau orientasinya hanya mengejar sekolah favorit, persoalan mendasar dalam pendidikan bisa terabaikan,” tutup Puji. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait