BRAVO13.ID, Samarinda – Kualitas guru dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Samarinda. Selain menyampaikan materi pelajaran, tenaga pendidik juga dituntut mampu mendampingi perkembangan karakter dan kehidupan peserta didik dalam lingkungan sekolah berasrama.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengatakan guru yang mengajar dalam program tersebut direkrut melalui seleksi tingkat nasional.
“Seleksi gurunya dilakukan secara nasional. Jadi, bukan hanya dari Samarinda, tetapi juga ada yang berasal dari daerah lain di Indonesia,” ujar Novan, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurutnya, mekanisme tersebut memungkinkan Sekolah Rakyat memperoleh tenaga pendidik dari berbagai daerah dengan pengalaman dan latar belakang yang beragam.
Seleksi guru Sekolah Rakyat dilakukan melalui mekanisme pemerintah pusat. Pada tahap awal, calon guru dipetakan dari lulusan Pendidikan Profesi Guru oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Pemerintah juga membuka kemungkinan penugasan guru aparatur sipil negara, sedangkan proses pengadaan PPPK guru dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat berada di lingkungan Kementerian Sosial.
Novan menyebut sebagian tenaga pengajar yang direkrut merupakan guru muda, termasuk mereka yang baru memasuki dunia kerja. Meski berada pada awal karier, para guru tersebut dinilainya memiliki semangat dan kemampuan untuk mendampingi peserta didik.
Namun, Novan belum merinci jumlah guru yang mengajar di Sekolah Rakyat Samarinda, asal daerah mereka, maupun komposisi tenaga pendidik berdasarkan pengalaman mengajar.
Ia menilai kualitas guru tidak cukup hanya dilihat dari latar belakang pendidikan dan hasil seleksi. Kemampuan memahami kebutuhan siswa, memberikan pendampingan, serta membangun suasana belajar yang aman juga diperlukan.
Sekolah Rakyat Samarinda menggunakan model pendidikan berasrama. Selain pembelajaran akademik, program tersebut memuat pembinaan karakter, keterampilan hidup, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama.
Menurut Novan, model pendidikan tersebut membuat peran guru tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.
Guru juga perlu berkoordinasi dengan pengelola asrama dan tenaga pendamping agar perkembangan peserta didik dapat dipantau secara berkelanjutan.
Novan mengatakan dirinya melihat perubahan pada kemampuan dan kepercayaan diri siswa selama hampir satu tahun pelaksanaan program.
“Perkembangannya cukup terlihat dalam waktu sekitar satu tahun. Ini menunjukkan program tersebut berjalan menuju tujuan yang diharapkan,” katanya.
Ia menyebut perubahan tidak hanya terlihat dalam pembelajaran akademik, tetapi juga pada kedisiplinan, karakter, dan sikap peserta didik.
Meski demikian, perkembangan tersebut masih merupakan penilaian Novan. Belum terdapat data evaluasi yang disampaikan mengenai peningkatan nilai akademik, kehadiran, keterampilan, maupun indikator perkembangan peserta didik lainnya.
Program Sekolah Rakyat ditujukan terutama bagi anak dari keluarga yang masuk desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional. Calon siswa juga melewati sejumlah tahapan, seperti seleksi administrasi, kunjungan rumah, wawancara orang tua, dan pemeriksaan kesehatan.
Novan berharap evaluasi terhadap guru dan proses pembelajaran terus dilakukan. Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari tersedianya fasilitas pendidikan, tetapi juga dari kualitas pendampingan dan perkembangan setiap peserta didik.
Ia menilai pelatihan lanjutan bagi guru tetap diperlukan, terutama terkait konseling, pembinaan karakter, serta pendampingan siswa dalam sistem pendidikan berasrama.
“Guru menjadi bagian penting dalam memastikan anak-anak dapat berkembang sesuai potensi masing-masing,” tutup Novan. (adv)

