Bravo 13
Pasar Pagi Senilai Rp468 Miliar Disebut Masih Sepi, Iswandi Minta Disdag EvaluasiIswandi meminta Disdag mengevaluasi Pasar Pagi Samarinda setelah menerima laporan aktivitas jual beli di dalam pasar masih rendah.
Oleh Bobby Lolowang2026-07-01 13:47:00
Pasar Pagi Senilai Rp468 Miliar Disebut Masih Sepi, Iswandi Minta Disdag Evaluasi
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi. (Kontributor Bravo13.id)

BRAVO13.ID, Samarinda - Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menyoroti aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda yang dinilainya belum seramai yang diharapkan setelah pasar tersebut kembali digunakan.

Ia mengaku menerima laporan mengenai rendahnya jumlah pembeli yang masuk ke area pasar. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap pendapatan pedagang yang telah menempati kios baru.

Iswandi menilai Pemerintah Kota Samarinda perlu mengevaluasi pengelolaan dan penataan Pasar Pagi agar pembangunan yang menelan anggaran besar benar-benar menggerakkan kegiatan ekonomi.

“Saya terus memonitor laporan dari para pedagang. Pasar yang dibangun dengan biaya Rp468 miliar, hasilnya memang bagus, tetapi justru sepi. Ekonomi tidak bergerak. Mau dibuat apa? Itu yang saya khawatirkan sejak dulu,” ujar Iswandi, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pasar tidak cukup diukur dari bentuk bangunan, kelengkapan fasilitas, maupun tampilan fisiknya. Pemerintah juga harus memastikan pedagang memperoleh manfaat melalui peningkatan aktivitas jual beli.

“Pembangunan infrastruktur secara estetika memang bagus. Namun, kalau manfaatnya tidak dirasakan, itu yang harus menjadi perhatian,” katanya.

Iswandi mengatakan besarnya biaya pembangunan seharusnya diikuti strategi untuk menarik masyarakat kembali berbelanja di Pasar Pagi.

Strategi tersebut dapat mencakup penataan pedagang, kemudahan akses, pengelolaan parkir, pengaturan jenis dagangan, promosi, serta penyediaan fasilitas yang membuat pengunjung nyaman memasuki seluruh bagian pasar.

Karena itu, ia meminta Dinas Perdagangan Samarinda tidak hanya berfokus pada penyelesaian fisik bangunan, tetapi juga menyusun langkah untuk menghidupkan kegiatan ekonomi di dalamnya.

“Kita minta dinas mencari cara bagaimana meramaikan kembali pasar itu. Jangan hanya mampu membangun, tetapi tidak mampu membuat pasarnya ramai,” tegasnya.

Iswandi juga menyoroti masih adanya kios dan ruang yang disebut belum dimanfaatkan. Menurutnya, ruang kosong membuat sebagian area pasar terlihat belum aktif sebagai pusat perdagangan.

“Penataannya saya lihat masih menyisakan banyak ruang kosong. Kalau pasar, biasanya dipenuhi pedagang yang berjualan. Ini justru masih terlihat seperti lorong,” katanya.

Namun, belum terdapat data rinci dalam keterangannya mengenai jumlah kios yang telah ditempati, tingkat keterisian lapak, maupun rata-rata jumlah pengunjung Pasar Pagi setiap hari.

Data tersebut diperlukan untuk mengukur apakah rendahnya aktivitas terjadi secara menyeluruh atau hanya pada lantai, zona perdagangan, dan waktu tertentu.

Iswandi meminta Disdag melakukan evaluasi berdasarkan kondisi setiap bagian pasar. Pemerintah juga perlu mendengar keluhan pedagang untuk mengetahui persoalan yang membuat pembeli belum banyak masuk ke dalam gedung.

Menurutnya, evaluasi harus diarahkan pada langkah yang konkret dan terukur, bukan hanya kegiatan seremonial atau promosi sesaat.

Ia berharap Pasar Pagi dapat kembali berfungsi sebagai pusat perdagangan yang mempertemukan pedagang dan pembeli, sekaligus menggerakkan perekonomian kawasan sekitarnya.

“Anggaran yang sudah dikeluarkan harus menghasilkan manfaat bagi pedagang dan masyarakat. Pasarnya harus benar-benar hidup, bukan hanya selesai dibangun,” pungkas Iswandi. (adv)

Dapatkan informasi dan insight pilihan bravo13.id

Berita Terkait