BRAVO13.ID, Balikpapan - Pelabuhan Kuala Samboja yang dulu hanya melayani sedikit kapal kini mencatat aktivitas sekitar 70 kapal vessel setiap bulan. Lonjakan tersebut membuat kawasan ini mulai dilirik sebagai salah satu calon jalur ekspor baru di Kalimantan Timur.
Perubahan itu disampaikan dalam Musyawarah Cabang (Muscab) II 2026 Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kuala Samboja yang digelar di Ballroom Hotel Platinum Balikpapan, Senin (20/4/2026).
Ketua APBMI Kuala Samboja Loies Subowo Saminanto mengatakan, kondisi pelabuhan di kawasan tersebut berbeda jauh dibanding beberapa tahun lalu. Sebelum 2019, kapal yang berlabuh masih terbatas karena area itu berstatus terminal khusus batu bara.
“Sebelum tahun 2019, kapal yang berlabuh di Kuala Samboja masih sedikit karena masih berstatus terminal khusus batu bara,” ujarnya.
Menurut Loies, perubahan mulai terjadi setelah layanan ship to ship (STS) dibuka pada September 2019. Saat itu, kapal MV Antoine menjadi vessel pertama yang menggunakan layanan tersebut.
“Awalnya saya juga masih ragu. Karena perusahaan bongkar muat belum pernah melakukan, TKBM juga belum pernah melayani. Tapi Alhamdulillah, selama lima hari kami kerjakan dan aktivitas bongkar muat berjalan lancar,” katanya.
Sejak saat itu, lalu lintas kapal terus meningkat. Aktivitas bongkar muat pun ikut mendorong pertumbuhan usaha di sekitar pelabuhan.
Saat ini, sebanyak 50 perusahaan tergabung di bawah APBMI Kuala Samboja. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 persen merupakan perusahaan lokal yang didirikan masyarakat sekitar.
“Ini pencapaian luar biasa. Artinya kegiatan ekonomi di sini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, termasuk dari perekrutan tenaga kerjanya,” ucap Loies.
Ia menilai, potensi Samboja cukup besar karena berada di kawasan yang didukung komoditas unggulan seperti batu bara, kayu, kelapa sawit, hingga minyak dan gas bumi.
Ke depan, APBMI Kuala Samboja berharap pembangunan Pelabuhan Amborawang dapat segera direalisasikan agar kapasitas layanan meningkat dan membuka peluang ekspor-impor lebih besar.
Pengurus Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Kaltim, Hasrun, mengatakan selama ini masih banyak produk dari Kalimantan Timur yang dikirim melalui Surabaya sebelum diekspor ke luar negeri.
“Ke depan kami berharap tidak perlu ke sana lagi, tetapi cukup dari Samboja saja,” ujarnya.
Menurut dia, jalur ekspor langsung dari Samboja berpotensi menekan biaya logistik sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif.
Meski demikian, peluang tersebut dinilai tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur pelabuhan, kualitas sumber daya manusia, serta dukungan regulasi agar Samboja benar-benar mampu berkembang sebagai gerbang ekspor baru di Kalimantan Timur.

