BRAVO13.ID, Tenggarong — Sekitar 12 ribu petani di Kutai Kartanegara kini terlibat dalam pengembangan komoditas kratom dengan kapasitas ekspor mencapai 200 hingga 300 ton per bulan. Produk ini telah menembus pasar internasional seperti Amerika Serikat, India, Thailand, hingga Republik Ceko.
Kratom yang sebelumnya sempat diperdebatkan karena dikaitkan dengan zat psikotropika, kini mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Sejumlah lembaga seperti Kementerian Pertanian, BPOM, dan BRIN telah mendorong penelitian serta penataan tata kelola untuk mendukung pengembangan komoditas ini, termasuk untuk kepentingan ekspor.
Di Kalimantan Timur, Kutai Kartanegara menjadi salah satu daerah dengan pengelolaan kratom yang cukup berkembang. Kecamatan Tenggarong Seberang bahkan telah menjadi sentra produksi, sekaligus memiliki fasilitas pengolahan menjadi ekstrak yang memberi nilai tambah bagi produk tersebut.
Capaian ini menarik perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), yang datang untuk mempelajari langsung pengelolaan kratom di Kukar. Kunjungan tersebut dipimpin Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kaltara, Heri Rudiyono, bersama rombongan legislatif dan sejumlah organisasi perangkat daerah, Kamis (16/4/2026).
“Kami melihat kratom sebagai peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi petani. Oleh karena itu, kami ingin menggali informasi lebih dalam agar dapat mengadopsinya di Kalimantan Utara,” ujarnya.
Ia mengakui, potensi kratom di Kaltara sebenarnya cukup besar dan tersebar di sejumlah wilayah seperti Malinau, Tana Tidung, Nunukan, dan Bulungan. Namun, pengelolaannya masih belum optimal sehingga diperlukan pembelajaran dari daerah yang lebih maju.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, menyebut peluang pengembangan kratom masih terbuka luas seiring meningkatnya permintaan pasar global.
“Permintaan kratom di pasar internasional terus meningkat. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas,” ujarnya.
Selama ini, produk kratom dari Kaltara masih dipasarkan melalui Kalimantan Barat. Ke depan, distribusi tersebut diharapkan dapat difasilitasi melalui Kukar yang telah memiliki jaringan pemasaran dan pengalaman pengelolaan.
Dengan kapasitas produksi dan jaringan ekspor yang telah berjalan, kratom kini menjadi salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di Kukar, terutama di wilayah sentra produksi seperti Tenggarong Seberang. (*)

