BRAVO13.ID, Samarinda – Pengembangan pertanian di kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai menunjukkan hasil. Panen Padi Gogo dilakukan di Muara Jawa dengan produktivitas mencapai 4,224 ton per hektare pada tahap uji coba.
Panen berlangsung di Demplot Pertanian Konservasi Kelompok Tani Mekar Jaya, Kamis (9/4/2026), dengan total lahan sekitar 20 hektare. Dari luasan tersebut, varietas IPB 9G dikembangkan di 5 hektare, sementara sisanya menggunakan varietas lokal.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menyebut hasil tersebut sudah sesuai dengan harapan awal pengembangan.
"Hasil ini sudah bagus, luar biasa, Bapak-ibu walaupun ini keliatannya kurang lebih dari 15 hektare, tetapi apabila tersebar dimana-mana ke depannya itu akan sangat luas. Apalagi dengan jumlah 20 orang petani, ini akan lebih mudah dan gampang untuk dimanage. Kita akan lebih kompak. Saya akan dukung ini dan kita akan pelihara sebagai kawasan pertanian bagi Ibu Kota Nusantara mendatang," ujarnya.
Pengembangan Padi Gogo ini merupakan bagian dari uji coba pertanian yang dilakukan selama empat bulan terakhir melalui kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Selain mengejar produktivitas, pendekatan yang digunakan juga diarahkan pada konsep pertanian regeneratif.
Perwakilan PT Pupuk Kalimantan Timur, Joko, mengatakan pengembangan pertanian di kawasan IKN akan meminimalkan penggunaan pupuk kimia dan lebih mengarah pada pupuk organik.
“Untuk wilayah IKN ini, kami akan menyesuaikan konsep di IKN sendiri, karena ini kan regeneratif ya pertaniannya. Jadi, walaupun kami punya pupuk kimia, tetapi kami akan sangat meminimalkan itu. Ini yang menarik, jadi nanti syukur-syukur kita belajar bagaimana sih membuat sebuah pupuk, tapi ini bukan pupuk kimia, apalagi pupuk subsidi. Ini adalah pupuk organik dan pupuk kompos. Pada intinya kami siap, untuk pergerakan maju dan pengembangannya kami akan selalu berkolaborasi dengan Otorita IKN beserta berbagai pihak lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, petani di Muara Jawa menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih dihadapi di lapangan. Perwakilan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nauli, Diana, menyebut kelompoknya masih membutuhkan pendampingan dalam pengelolaan lahan pekarangan.
“Terima kasih Bapak, saya mewakili dari KWT menyampaikan. Di Muara Jawa ini ada 13 kelompok KWT dan kami memohon bimbingan dari Bapak Bupati, juga Bapak Kepala Otorita IKN. Mungkin kalau kami, Ibu-ibu itu intern-nya KWT, karena lahan itu yang ada di lingkungan rumah, berbeda halnya dengan petani. Tetapi kadang terkendala di tempat pengolahan dan perlu bimbingan bagaimana cara mengelola lahan pekarangan yang ada agar KWT kami di Muara Jawa dapat lebih maju dan baik lagi,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan Ketua Gapoktan Maju Sejahtera, Sarnu, yang menyebut kebutuhan alat dan mesin pertanian serta pupuk masih menjadi kendala utama.
“Gapoktan kami di Muara Jawa ada 19 kelompok tani dan 2 KWT, dengan jumlah anggota yaitu 400 orang lebih. Luasan lahan kami baik lahan basah maupun lahan kering itu sekitar 400 hektar. Kami selaku tuan rumah mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya. Keluhan kami, Pak, sebagai kelompok tani, sebagaimana yang disampaikan Bapak Wakil Bupati tadi, yaitu alsintan (alat dan mesin pertanian) dan pupuk. Itu yang utama,” ujarnya.
Selain itu, petani juga menyoroti akses jalan menuju lahan yang dinilai masih perlu diperbaiki untuk mendukung aktivitas produksi dan distribusi hasil panen.
Panen ini menjadi bagian dari evaluasi pengembangan demplot pertanian di Muara Jawa. Otorita IKN menyebut hasil uji coba tersebut akan menjadi dasar untuk pengembangan lebih lanjut di kawasan sekitar ibu kota baru. (*)

