BRAVO13.ID, Tenggarong - Rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Kecamatan Anggana dan Sangasanga di Kutai Kartanegara diperkirakan menelan biaya hingga Rp2 triliun. Namun, proyek tersebut masih berada pada tahap studi dan belum mencapai keputusan final terkait lokasi maupun desain konstruksi.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur saat ini masih membahas penentuan trase atau titik pembangunan jembatan. Keputusan tersebut dinilai krusial karena akan memengaruhi bentuk konstruksi, panjang jembatan, hingga kebutuhan anggaran secara keseluruhan.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pembangunan jembatan ini tidak hanya menghubungkan dua kecamatan, tetapi juga berkaitan dengan konektivitas wilayah yang lebih luas, termasuk ke Samarinda dan Balikpapan.
“Yang nantinya diharapkan bisa memperbendek waktu dan kemudian juga bisa lebih cepat dalam transisi distribusi barang dan manusia,” kata Aulia.
Menurutnya, kawasan Pendingin yang direncanakan sebagai kawasan industri membutuhkan dukungan akses yang memadai agar distribusi logistik dan mobilitas masyarakat dapat berjalan lebih efisien.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR-PERA Kaltim Fitra Firnanda menyebutkan terdapat beberapa opsi lokasi yang sedang dikaji.
“Titik lokasi yang diperkirakan kalau dari Sanga-Sanga yaitu, Pendingin,Palaran atau di antara dua daerah itu. Kemudian kalau dari daerah Anggana mulai dari Kutai Lama sampai ke arah dekat Muara Badak,” ujarnya.
Selain lokasi, pemerintah juga menyiapkan tiga alternatif desain pembangunan. Alternatif pertama berupa satu jembatan dengan panjang sekitar 1.025 meter. Alternatif kedua terdiri dari dua jembatan dengan panjang masing-masing sekitar 1.210 meter dan 680 meter. Sementara alternatif ketiga mencakup tiga jembatan dengan panjang masing-masing sekitar 450 meter, 415 meter, dan 650 meter.
Perbedaan desain tersebut berdampak pada kebutuhan infrastruktur pendukung. Panjang jalan akses pada alternatif pertama diperkirakan sekitar 3,25 kilometer, alternatif kedua sekitar 5 kilometer, dan alternatif ketiga mencapai sekitar 7,6 kilometer.
Kebutuhan lahan juga bervariasi, mulai dari sekitar 27 hektare pada alternatif pertama hingga 78,4 hektare pada alternatif ketiga.
Kepala Dinas PU Kukar Wiyono menambahkan, konsep jembatan yang dirancang menggunakan konstruksi rangka baja seperti yang sudah diterapkan di Tenggarong.
“Secara umum konsep jembatan ini menggunakan konstruksi rangka baja seperti yang ada di Tenggarong,” ucapnya.
Meski nilai investasi yang dibutuhkan cukup besar, pemerintah daerah menyatakan masih akan melakukan koordinasi lanjutan dengan Pemerintah Provinsi Kaltim terkait skema pembiayaan.
Saat ini, seluruh opsi masih dalam tahap kajian. Penentuan lokasi akhir akan menjadi dasar dalam menghitung kebutuhan anggaran, desain konstruksi, serta efektivitas jembatan terhadap mobilitas dan distribusi di wilayah pesisir Kutai Kartanegara. (*)

