BRAVO13.ID, Samarinda - Revamping Pabrik Amoniak Kaltim 2 PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) di Bontang diproyeksikan menurunkan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen serta menambah pasokan nasional sebesar 700 ribu ton per tahun. Proyek ini juga diklaim mampu menekan emisi karbon hingga 110 ribu ton CO₂ ekuivalen per tahun melalui peningkatan efisiensi energi.
Proyek strategis tersebut diresmikan Kamis, 28 Januari 2026, dan dihadiri Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, serta sejumlah pejabat pusat dan daerah.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyebut pabrik PKT yang pertama kali diresmikan pada 29 Oktober 1984 itu merupakan produsen pupuk urea dan NPK terbesar di Asia Tenggara sekaligus industri strategis nasional yang memiliki peran penting dalam menjaga pasokan pupuk Indonesia.
Menurutnya, revamping pabrik amoniak bukan sekadar penggantian mesin yang telah menua, melainkan upaya memastikan keandalan pasokan pupuk nasional di tengah meningkatnya kebutuhan pangan.
“Revamping ini bukan sekadar mengganti mesin yang sudah uzur, tetapi memastikan pabrik mampu menopang pasokan pupuk nasional secara berkelanjutan,” ujar Rudy Mas’ud.
Ia menambahkan, revitalisasi tersebut juga memungkinkan pemenuhan kebutuhan pupuk Kalimantan Timur secara lebih optimal sekaligus mendukung distribusi ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Dari sisi lingkungan, proyek ini meningkatkan efisiensi energi dan menurunkan emisi, sehingga sejalan dengan agenda pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dalam konteks ketahanan pangan, Rudy Mas’ud mengibaratkan pabrik pupuk sebagai dapur nasional yang harus modern, bersih, aman, dan efisien.
“Revamping ini membuktikan bahwa BUMN tidak boleh puas dengan sejarah masa lalu, tetapi harus berani berinvestasi untuk masa depan pangan Indonesia yang lebih mandiri,” katanya.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menyatakan revamping pabrik amoniak PKT akan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk pupuk menuju industri hijau. Ia menyoroti penurunan konsumsi energi amoniak dan penghematan gas alam yang berdampak langsung pada penurunan emisi karbon.
“Kami mendukung dan mengapresiasi jajaran Pupuk Indonesia dalam upaya menjamin ketersediaan pupuk bagi petani, sekaligus mempercepat swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut proyek tersebut merupakan bagian dari revitalisasi industri pupuk nasional. Melalui efisiensi biaya produksi, pemerintah menargetkan harga pupuk bersubsidi, khususnya urea dan NPK, dapat ditekan hingga 20 persen dengan biaya tetap, disertai penambahan volume pupuk bersubsidi sebanyak 700 ribu ton.
“Kita akan membangun tujuh pabrik pupuk baru, dan lima pabrik akan diresmikan sebelum 2029,” ujar Andi Amran.
Peresmian proyek ditandai dengan penekanan tombol sirene, penandatanganan prasasti, serta penandatanganan komitmen dukungan ketahanan pangan nasional oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Menteri Pertanian, Kapolri, dan Gubernur Kalimantan Timur.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, Kapolda Kaltim Irjen Pol. Endar Priantoro, Kajati Kaltim Dr. Supardi, Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul, Sultan Kutai Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, serta Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni. (*)

